Sepanjang 2026, para pemimpin organisasi masyarakat sipil bekerja di tengah tekanan yang tidak ringan: ruang sipil yang menyempit, ketidakpastian pendanaan, beban kerja yang menumpuk, serta tuntutan untuk tetap menjaga tim dan misi organisasi tetap hidup. Dalam kondisi seperti ini, kepemimpinan seringkali berjalan dalam mode bertahan — cepat mengambil keputusan, menanggung sendiri, mengontrol lebih ketat, atau justru menghindari konflik demi menjaga suasana.
Cara-cara tersebut sering kali berhasil. Target tercapai, krisis terlewati, program tetap berjalan. Namun setiap cara memimpin punya harga yang dibayar, baik oleh pemimpin itu sendiri, oleh tim, dan oleh kualitas relasi di dalam organisasi. Hal ini jarang dibicarakan, karena evaluasi akhir tahun pada umumnya berhenti pada pertanyaan apa yang dicapai, bukan bagaimana capaian itu diraih.
Pelatihan ini mengajak para pemimpin berhenti sejenak dan menengok kembali bukan hanya hasil kerja 2026, tetapi pola perilaku yang muncul dalam diri mereka sepanjang tahun ini. Menggunakan kerangka Pimpin Laku, peserta akan menelusuri rantai keterkaitan antara kondisi internal → perilaku kepemimpinan → pola → dampak terhadap diri sendiri dan orang lain, lalu memutuskan secara sadar apa yang perlu ditinggalkan di 2026 dan pemimpin seperti apa yang ingin mereka latih menjadi di 2027.